Membaca

Leaders are Readers!

Hisyam Asadullah
5 min readSep 27, 2022

--

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dulu sewaktu aku kecil — mungkin sekitar kelas 3 atau 4 SD — Kedua orang tuaku menginisiasi “rumah baca” di rumah. Lebih tepatnya di ruang tamu. Tidak terlalu besar memang, namun koleksi bukunya cukup banyak, ada sekitar dua lemari buku. Rumah baca ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca bagi anak-anak di sekitar rumahku. Selain itu, sangat disayangkan juga jika buku yang dibeli hanya dibaca oleh kami, anak-anaknya. Maka dari itu, ide rumah baca ini pun lahir dan dieksekusi.

Sejujurnya, dulu aku tidak terlalu paham apa yang terjadi. Yang kupahami waktu pembukaan rumah baca itu, rumah kami ramai sekali. Waktu itu yang diundang adalah anak-anak TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di dekat rumah. Acaranya juga tidak terlalu formal. Aku bahkan tak ingat apakah ada semacam peresmian atau tidak. Yang kuingat adalah: Aku pulang dari TPA, lalu teman-temanku juga ikut ke rumah. Kata ustadzku, mereka diundang oleh bapak untuk datang kesana. Kemudian mereka masuk, lalu membaca buku yang ada. Sekitar satu jam setelah membaca buku kesana kemari, kemudian barulah mereka pulang ke rumah masing-masing.

Membaca bagiku sudah dimulai jauh sekali sejak aku kecil. Menurut buku Atomic Habits karya James Clear, salah satu cara untuk membuat kebiasaan yang baik adalah dengan membuatnya “mudah terlihat”. Itulah sebabnya mungkin kenapa aku dari kecil sudah suka membaca buku. Buku telah ada di rumahku di dalam lemari, di meja belajar, dan tempat-tempat yang mudah dijangkau. Buku begitu mudah dilihat, sehingga alam bawah sadarku mengarahkan untuk selalu membaca buku.

Waktu SD, buku yang kubaca adalah buku-buku komik. Aku tak terlalu ingat judul komiknya apa saja. Aku suka membaca komik karena ilustrasi yang begitu menarik. Berlanjut ke SMP, ada satu novel yang berhasil aku khatamkan, yakni Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Buku itu kutemukan di dalam lemari saat sedang bosan di rumah. Buku Sang Pemimpi adalah buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi dan baru kusadari ternyata aku melompati buku pertama. Setelah mencari kesana kemari, barulah kutemukan buku laskar pelangi di perpustakaan SMP. Sejak saat itulah, aku sadar aku harus memperbanyak membaca buku.

Di buku laskar pelangi, aku suka dengan tiga tokoh utamanya: yakni Ikal, Lintang dan Mahar. Ikal memikat dengan kemampuan menulisnya yang piawai serta semangat juang yang tinggi dalam belajar. Selain itu, hal yang menarik dari Ikal adalah seputar kisah asmara antara dia dengan Aling. Kisah asmara yang dimulai dengan menyukai kuku-kuku cantik yang dimiliki oleh Aling, sehingga Ikal rela untuk selalu membeli kapur tulis di toko sinar harapan, walaupun bukan jadwalnya untuk membeli kapur tulis.

Tokoh kedua adalah Lintang. Lintang menarik dengan kemampuan intelektual tinggi yang ia miliki, jauh diatas rata-rata anak yang lain. Puncak dari intelektualitas itu adalah ketika tim dari sekolah Muhammadiyah Gantong berhasil mengalahkan anak-anak Sekolah PN timah dalam lomba cerdas cermat. Mereka menang telak jauh sekali. Bahkan di pertengahan lomba cerdas cermat, Lintang sempat berdebat dengan juri karena memang jawaban yang disampaikan oleh dewan juri salah. Ketika ditantang untuk menyampaikan rasionalisasi atas jawabannya, Lintang pun berhasil menjawab dengan tegas dan lugas. Alhasil, sekolah Muhammadiyah Gantong berhasil membawa pulang juara. Qui Genus Humanum Ingenio Superavit. Dia yang genius, tiada tara.

Tokoh ketiga adalah Mahar. Mahar dengan ide seni yang luar biasa juga selalu membawa hal-hal baru yang menyegarkan. Penjelasan sederhananya, Lintang adalah otak kiri, sedangkan Mahar adalah otak kanan. Pertama kali kemampuan seninya diketahui saat Mahar disuruh untuk menyanyikan lagu wajib nasional di depan kelas oleh Bu Mus. Seketika semuanya terkesima. Level suara yang berbeda dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Puncaknya adalah ketika dalam pawai 17 agustus-an, Mahar dengan ide kreatifnya membawa tarian afrika yang disesuaikan dengan kebudayaan lokal. Dan lagi-lagi, Sekolah Muhammadiyah Gantong membawa piala setelah sebelumnya selalu dimenangkan oleh sekolah dari PN timah.

Ketiga tokoh tadi punya satu kesamaan, yakni semangat juang yang tinggi. Berawal dari kondisi yang sama untuk mengubah nasib menjadi lebih baik melalui jalur pendidikan. Dengan segala keterbatasan, mereka selalu mengupayakan untuk selalu datang ke sekolah. Jarak yang jauh, kondisi ekonomi, bahkan ancaman nyawa — Lintang pernah dihadang oleh buaya saat perjalanan menuju sekolah — tak menyurutkan langkah untuk masuk ke sekolah.

Kisah Laskar Pelangi memang kisah fiksi. Namun, siapa sangka, kisah itu telah menginspirasi banyak orang, baik di dalam maupun di luar negeri. Dan aku tak akan pernah tau buku Laskar Pelangi, jika tidak melalui membaca. Benarlah berarti apa kata pepatah: Membaca berarti membuka jendela dunia.

Beberapa hal yang aku pelajari mengenai membaca — yang barangkali teman-teman rasakan juga — adalah:

Membaca bukanlah sebuah kompetisi. Membaca adalah proses pembelajaran. Kita tidak sedang beradu tentang seberapa banyak buku yang telah kita khatamkan. Kita tidak sedang beradu tentang seberapa lama kita bisa membaca sebuah buku. Membaca artinya kita sedang belajar menjadi insan yang lebih baik. Tak perlu risau dengan dia yang telah mennyelesaikan puluhan atau ratusan buku. Tak perlu khwatir dengan mereka yang bisa membaca buku selama berjam-jam. Bacalah buku dengan niat yang lurus untuk menggapai ridho Ilahi. Maka, bacalah dengan iramamu sendiri.

Membaca adalah kebiasaan orang-orang besar. Sebutlah beberapa nama tokoh besar, dan aku yakin salah satu diantaranya ada yang mempunyai kegemaran membaca. Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Buya Hamka, R.A. Kartini, B.J. Habibie, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang gemar membaca. Bahkan Drs. Mohammad Hatta mempunyai perpustakaan pribadi untuk memuat buku-buku yang ia punya. Membaca berarti meningkatkan kapasitas diri dengan apa yang telah kita baca. Aku tak hendak mengatakan bahwa untuk menjadi orang besar maka kamu harus membaca. Namun, aku hendak mengatakan orang-orang besar punya kebiasaan membaca yang luar biasa. Terlihat perbedaannya bukan?

Membaca adalah perintah Tuhan. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang ummiy, artinya beliau adalah nabi yang tak bisa baca tulis. Namun, satu hal yang menarik adalah bahwa wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad SAW merupakan perintah untuk membaca. Di dalam Quran Surah Al Alaq ayat 1 yang berbunyi:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan

Perintah membaca disampaikan melalui nabi yang ummiy kepada seluruh alam semesta. Hal tesebut menjadi tanda bahwa membaca merupakan salah satu proses yang penting untuk dilakukan oleh manusia.

Membaca tak perlu memandang genre buku, selama hal itu bermanfaat. Beberapa kali aku menemukan orang yang memandang rendah beberapa genre buku dengan alasan “terlalu mudah dibaca”. Padahal, membaca buku apapun itu, selama bermanfaat tentu tidak akan menjadi masalah. Membaca buku novel dengan pemaknaan yang dalam tentu akan lebih baik ketimbang dengan membaca buku self improvement tapi tak melaksanakan apa-apa yang telah ditulis di dalamnya. Ibaratnya: “Membaca buku untuk gaya-gayaan saja”. Maka, tak perlu minder dengan bacaan yang kita punya. Bacalah, selama buku itu membawa manfaat.

Membaca akan membuka perspektif lebih luas terhadap dunia. Kita bisa merasakan kerasnya perjuangan pendidikan yang ditempuh oleh Ikal dan kawan-kawan melalui buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kita bisa merasakan manisnya cinta dalam penantian melalui buku Bidadari Bermata Bening karya Habiburrahman El Shirazy. Kita bisa merasakan sulitnya nafas perjuangan aktivis untuk mewujudkan Indonesia yang lebih demokratis melalui buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Kita bisa merasakan banyak emosi, kita bisa memaknai berbagai pengalaman, kita bisa belajar dari sejarah yang telah lau, tanpa “benar-benar melalui” rangkaian peristiwa tadi. Kita bisa menjadi “kaya” dengan membaca.

Jadi, sudah baca buku apa aja hari ini?

--

--